REFLEKSI BUDAYA

REFLEKSI BUDAYA: DALAM PENERAPANNYA PADA PEMBELAJARAN ETNOMATEMATIKA

Indonesia adalah negeri dengan warisan budaya yang sangat kaya. Budaya-budaya itu tidak hanya terdiri dari benda-benda mati, namun juga berbagai seni tradisi yang sangat indah. Benda-benda warisan budaya di Indonesia diantaranya bangunan candi, keris, tombak, lumbung padi, keraton, dan berbagai bangunan bersejarah lain yang dapat menggambarkan budaya Indonesia. Sementara warisan seni tradisi di Indonesia diantaranya seni bela diri, berbagai jenis lagu daerah, tari daerah, musik daerah, serta berbagai pertunjukan daerah seperti wayang hingga ketoprak.

Budaya merupakan suatu penge-tahuan dan konsepsi, diwujud-kan dalam model komunikasi simbolik dan non-simbolis, tentang teknologi dan keterampilan, perilaku adat, nilai-nilai, keyakinan, dan sikap, masyarakat telah berkembang dari sejarah masa lalu, dan memodifikasi secara progresif dan menambah untuk memberi makna dan mengatasi masalah masa depan sekarang dan diantisipasi keberadaannya (Arya W. dan Kadek Rahayu P, 2016). Seiring dengan pengertian tersebut, budaya mulai dimanfaatkan sebagai media pembelajaran yang interaktif dan kreatif. Pada pembelajaran matematika sendiri, penggunana budaya sebagai media pembelajaran dikaji khusus dalam suatu ilmu yang disebut dengan etnomatematika. Shirley (2001) dalam Agung (2012), berpendapat bahwa etnomathematika adalah matematika yang muncul dan berkembang dalam masyarakat yang sesuai dengan kebudayaan setempat serta merupakan pusat proses pembelajaran dan metode pengajaran. Melalui  etnomatematika,  diharapkan dapat membuka membuka potensi pedagogis siswa melalui pembelajaran bermakna di luar kelas karena adanya kaitan secara langsung antara matematika dengan budaya.

 

Etnomatematika sangat sesuai diterapkan pada kurikulum nasional saat ini. salah satu alasannya karena etnomatematika menerapkan pendekatan kontekstual yang menyajikan contoh-contoh atau masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari yang sangat relevan. Salah satu contoh budaya yang dapat dijadikan media pembelajaran berbasis etnomatematika adalah pertunjukan ketoprak. Belum lama ini, UNY menampilkan pertunjukan ketoprak dengan judul “Rembulan Kekalang” dalam rangka memperingati Dies Natalis UNY ke-54. Menceritakan tentang kisah seorang tuan putri yang sangat cantik, namun berakhir dengan bunuh diri karena ia putus asa. Orang Tuanya meninggal dalam perang perebutan kekuasaan. Pangeran yang dicintainya pergi ketempat pengasingan. Ia merasa sebatang kara. Cantik namun sendirian. Seperti Rembulan Kekalang.

 

Dari cerita Ketoprak Rembulan Kekalang, dapat dijadikan media pendidikan karakter anak. Karena banyak pesan moral yang ada didalamnya, seperti:

  • Jangan merasa iri dengan harta atau kelebihan yang dimiliki orang lain.
  • Jangan membalas dendam
  • Tida boleh sombong dengan apa yang sudah kita miliki
  • Bersyukur dengan apa yang sudah kita dapatkan
  • Tidak boleh mudah menyerah atau berputus asa. Jangan seperti Tuan Putri yang memilih bunuh diri.
  • Bersikap ramah dan baik ekpada siapapun
  • Berbakti keepada kedua orang tua.
  • Menjaga amanah yang sudah dititipkan

Dalam matematika sendiri, saya banyak menemukan objek perlengkapan ketoprak yang dapat dijadikan media pembelajaran geometri seperti seperangkat gamelan dan gong.

 

Dengan menyisipkan budaya dalam pendidikan, diharapkan peserta didik lebih tertarik untuk belajar dan memahami pesan yang ingin disampaikan. Terutama dalam pembelajaran matematika yang sering menjadi momok bagi siswa. Dengan mengajak siswa menonton ketoprak misalnya, dapat menambah motivasi belajar siswa karena merasa tertarik dengan pendidikan yang terkandung dalam pertunjukan ketoprak.

 

Daftar Pustaka

 

Fatimah, Siti. 2015. MENGGAGAS INTEGRASI MULTIKULTUR  PEMBELAJARAN MATEMATIKA: suatu telaah etnomatematika. AULADUNA, VOL. 2 NO. 2: 246-263 248

Hartoyo, Agung. 2012. Eksplorasi Etnomatematika Pada Budaya Masyarakat Dayak Perbatasan Indonesia-Malaysia Kabupaten Sanggau Kalbar. Pontianak: Jurnal Penelitian Pendidikan. Vol. 13 No. 1,

Setyono , Tuhu , dkk. Pengembangan Media Pembelajaran Matematika Dengan Menggunakan Macromedia Flash Pada Materi Bangun Ruang Kelas VIII SMP. Universitas Pasir Pengaraian: Jurnal

Fitriatien , Sri Rahmawati. 2016. Pembelajaran Berbasis Etnomatematika. Universitas Adi Buana. https://www.researchgate.net/publication/

317318097

Marsigit, dkk. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Etnomatematika untuk Meningkatkan Kompetensi Mahasiswa Pendidikan Matematika. UNY: Jurnal Pendidikan

. 2016. Pembelajaran Matematika dalam Perspektif Kekinian. Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika. Vol. 2, No. 3: 132. ISSN 2442-3041

Wulandari , Arya dan Kadek Rahayu Puspadewi. 2016. Budaya dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Matematika yang Kreatif. Jurnal Santiaji Pendidikan, Volume 6, Nomor 1, ISSN 2087-9016

 

 

REFLEKSI KULIAH ETNOMATEMATIKA

RINGKASAN KULIAH ETNOMATEMATIKA

DOSEN PENGAMPU: Prof. Dr Marsigit, MA.

PENDIDIKAN MATEMATIKA A 2015 FMIPA UNY

Oleh: Alvi Khoirunnisak

NIM: 15301241012

Etnomatematika adalah salah satu mata kuliah yang wajib ditempuh mahasiswa prodi pendidikan matematika di FMIPA UNY dengan beban kuliah sebanyak 2  SKS. Dosen pengampu dari mata kkuliah ini adalah Prof. Dr. Marsigit, MA yang sekaligus tengah mengembangkan kajian Etnomatematika di Indonesia.  Prof menyampaikan etnomatematika sangat baik diterapkan dalam pembelajaran karena etnomatematika mengaitkan konsep budaya dan matematikaa.. Pertama kali mengikuti perkuliahan etnomatematika, saya masih belum mengerti apa yang sebenarnyaa yang dimaksud etnomatematika? Mengapa ada etnomatematika? Dan bagaimana menerapkan etnomatematika jika diterapkan dalam pembelajaran matematika.

Istilah etnomatematika pertama kali dicetuskan oleh Bishop. Iaa menyatakan “Ethnomathematics in the elementary classroom is where the teacher and the students value cultures, and cultures are linked to curriculum” (Barta & Shockey, 2006: 79). Etnomathematika dapat dipandang sebagai matematika yang muncul dan berkembang dalam masyarakat yang sesuai dengan kebudayaan setempat serta merupakan pusat proses pembelajaran dan metode pengajaran. Melalui  etnomatematika,  diharapkan dapat membuka membuka potensi pedagogis siswa melalui pembelajaran bermakna di luar kelas karena adanya kaitan secara langsung antara matematika dengan budaya. Pada dasarnya, kemampuan matematis  seseorang dipengaruhi oleh latar belakang budayanya (Pinxten, 1994 dalam Agung, 2012). Berdarkan pengertian-pengertian tersbut Prof Marsigit emudian memberikan kami tugas untuk melakukan observasi terhadap eraton Jogja, Candi Borobudur dan Candi Prambanan.

Prof Marsigit tidak banyak menyampaikan teori selama perkuliahan. Prof marsigit lebih banyak memberikan kami kesempatan untuk aktif mngembangkan diri. Hal ini karena Prof Marsigit menekankan pembelajaran yang berpusat kepada siswa. Artinya, siswa sebagai subjek pmbelajaran. Siswa tidak didekte materi yang akan disampaikan. Dengan arahan guru, siswa mengembangkan sendiri konsep pengetahuannya agar dapat mengalami pembelajaran bermakna. Pendekatan pembelajaran yang Prof marsigit terapkan ini sejalan dengan tujuan pebelajaran etnomatematika yang ingin beliau sampaikan kepada kami, yaittu pembelajaran bermakna dengaan konsep student centered. Diharapkan kami kelak dapat menerapkan pembelajaran etnomatematika seperti yang telah Prof Marsigit contohkan saat ami sudah menjadi guru.

Pembelajaran berbasis etnomatematika masih tergolong pembelajaran baru. Dalam penerapan pembelajaran etnomatematika, diperlukan perangkat pembbelajaran berbasis etnomatematika pula. Disinal, Prof Marsigit memberikan kami tugas untuk menyusun perangkat pembelajaran etnomatematika. Diantara perangkat pembelajaran tersebut antara lain: silabus, RPP, dan LKS. Dalam penyusunan perangkat pembelajaran, kami dibagi dalam tiga kellompok besar. Dimana masing-masing kelompok memilih satu diantara tiga objek budaya idi Jogjakarta: Keraton, Candi Borobudur atau Candi Prambanan. Observasi dilakukan untuk menemukan konsep budaya yang ada pada objek-objek tersebut, kemudian dijadikkan media pembelajaran berbasis etnomatematika.

Selama proses penyusunan perangkat pembelajaran berbasis etnomatematika, saya mengalami beberapa kesulitan. Kkesulitan-kesulitan tersebut diantaranya bagaimana sebenarnya menggabungkan budaya yang ada ke dalam pembelajaran matematika? Apakah hanya sebatas sebagai media pembelajaran yang diamati siswa lalu siswa menemukan konsep matematika dari unsur budaya tersebut? Lalu bagaimana dengan langkah pembelajarannya? Pendekatan pemebalajaran apa yang sesuai untuk dikaitkan dengan etnomatematika? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang pada saat awal penyusunan perangkat media pembelajaran ingin saya tanyaan.

Setelah selesai menyusun perangkat pembelajaran, salah satu perwakilan dari massing-masing objek budaya diminta mempraktekan perangkat pembelajaran yang telah mereka susun. Saya adalah salah satu mahasiswa yang berkesempatan mempraktekkan perangkkat pembelajaran berbasis etnomatematika sebagai wakil dari kelompok yang mengobservasi keraton. Dua teman saya yang lain adalah Woro Alma Manfaati sebagai wakil dari CandiPrambanan dan Almaida Alvi Zahrotunnisa sebagai wakil dari Candi Borobudur. Setelah saya mempraktekan hasil penyusunan perangkat pembelajaran saya saya mulai mendapatkan jawaban dari pertanyaan-peranyaan saya sebelumnya.

Dalam pembelajaran berbasis etnomatematika, yang terpenting adalah kaitan budaya dengan pembelajaran matematika. Selama ini, kaitan yang paling sering diterapkan adalah media pembelajaran geometri. Setelah objek budaya diamati, diambil objekk-objek yang dapat dijadikan media peembelajaran geometri, lalu siswa melakukan pengamatan terhadap objek tersebut dan mengaitkan dengaan konsep matematika yang akan dipelajarai.

Kemudian perhatikan pendekatan pembelajaran yang akan digunakan. Pendekatan pembelajaran yang digunakan harus pendeatan pembelajaran yang berpusat pada siswa yang sesuai dengan peraturan pemerintah dalam kurikulum nasional.  Setelah itu, sisipkan etnomatematika dalam langkah pembelajaran serta media yang akan digunakan. Etnomatematika adalah ilmu, sehingga etnomatematika tidak memiliki sintaks atau langkah-langkah pembelajaran sendiri. Tetapi etnomatematika dapat disatukan dengan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan memperhatikan keadaan siswa, kelas serta materi yang akan disampaikan.

Karena etnomatematika adalah pembelajaran berbasis budaya, maka etnomatematika paling sesuai diterapkan pada jenjang Sekolah Dasar. Setelah itu pada jenjang Sekolah Menengah. Dalam pratek pembelajaran berbasis etnomatematika, langkah-langkah pembeajaran yang dilakukan seorang guru harus mengacu pada RPP berbasis etnomatematika yang telah ia susun, kemudian LKS yang digunakan juga harus memiliki kaitan dengan etnomatematika. Sementara untuk penyampaian materi menyesuaikan dengan pendekatan pembelajaran yang sesuai.  Pembelajaran berbasis etnomatematika tidak harus sepenuhnya membahas budaya. Budaya yang akan dikaitkan dengan onspe matematika dapat hanya disisipkan dalam salah satu langkah pembelajaran atau bahkan hanya digunakan sebagai media pembelajaran seperti LKS.

Di akhir peruliahan etnomatematika, kami dibersamai dengan guru dan dosen yang sedang menempuh S3 mata kuliah etnomatematika dnegan Prof Marsigit. Kami dibagi dalam kelompok-kelompok untuk melakukan sesi diskusi dengan salah satu dari sembilan guru atau dosen  sebagai fasilitator kami. Saya sendiri saat itu berdiskusi dengan Pak Wawan. kami menyampaikan beberapa pertanyaan dan kami berdiskusi untuk mendapat jawaban bersama. Kesimpulan hasil ddiskusi kami diantaranya yaitu: etomatemtika paling sesuai diterpakan pada jenjang SD, sebagai ilmu baru, kajian etnomatematika masih sulit ditemukan terutama dalam prakteknya secara langsung.

Puisi: Pelajaran Sejarah

Alvi Khoirunnisak

Telingaku memburu lonceng

Dan mata fokus membidik jarum jam

Sampai gebrak tangan di meja guru

Memecahkan segala lamunan

Kulihat, satu-satu dari kami memaksa kepala tegak

Mencerna semprotan pak guru

Anakku, kenapa kau menjalani upacara bendera?

Tapi jiwamu tinggal di kasur empuk

Atau pergi mencari isi perutmu

Kulihat, satu-satu dari kami membenamkan kepala

Di telangkup tangan kami

Hening

Sampai sebuah gebrakan di meja guru memecah segala hening

Kau tahu mereka, Anakku

Mereka yang membawa bambu runcing

Menguras darahnya untuk kelancaran darahmu

Hanya merdeka atau mati di abun-abun mereka kala itu

Tanpa tawar, tanpa gentar

Mereka, Anakku

Mereka yang telah merengkuh dalam pusara

Mereka yang telah menukar nyawa demi bendera

Mereka yang telah tidur

Tapi kau

Kau hanya berkeringat yang bahkan tidak berbekas

Kau cukup berdiri tanpa bambu runcing, Anakku

Mengangkat tangan sejenak untuk menghormati perjuangan mereka

Mengibarkan merah putih di ujung tiang kejayaan

Tapi kenapa?

Kau masih tertawa ketika gerimis membasahai upacara pagi tadi?

Kulihat, satu-satu dari kami membenamkan kepala

Di telangkup tangan kami

Beku

Sampai sebuah gebrakan di meja guru melebur segala beku

Mereka yang telah menguras darahnya untukmu

Apakah hanya kau biarkan tidur tanpa mimpi?

Gersang tanpa bunga?

Ya, Anakku

Mereka ingin kau mengharumkan tanah air kita

Dengan aroma tinta yang keluar saat kau mengukir hidupmu

Pada tiap-tiap panggung kemenangan

Menciptaka guratan manis sejarah di tiap-tiap keturunan

Sebagai mimpi mereka

Kulihat, satu satu dari kami

Mengangkat kepala yang habis dijejali Pak Guru dengan orasinya

Kami diajak lagi mencium aroma penjajahan

Dengan anyir darah dan getir butir keringat

Yang keluar karena menahan injakan kaki para penjajah

Kali ini Pak Guru menggebrak rasa dan karsa kami

Anakku, kau adalah telur-telur garuda yang baru saja menetas

Tumbuhlah! Terbanglah !

Tatap dan terkam segala pemburumu!

Jangan megalah pada penjajah globalisasi

Maya, namun paling ngeri

Penjajah harus diusir

Dari kamar-kamar di hati dan abun-abu mu

Lalu sebarkanlah bakal pertiwi yang akan naik tahta

Ringkasan Kuliah Etnomatematika

Tanggal 14 MEI 2018

Di Kelas Pendidikan Matematika A 2015

Universitas Negeri Yogyakarta

Dosen Penagmpu: Prof. Marsigit, MA.

 

Kuliah Etnomatematika yang dilaksanakan mahasiswa kelas Pendidikan Matematika A 2015 pada hari Senin, 14 Mei 2018 sedikit berbeda dari hari-hari biasanya. Kuliah kami pada hari  itu lebih ramai karena ditemani sembilan Bapak dan Ibu yang menempuh jenjang S3 dari berbagai jurusan namun prodi yang sama yakni Pendidikan Matematika di UNY. Sembilan Bapak dan Ibu tersebut mendampingi proses pembelajaran bersama Prof. Marsigit, MA. Pembelajaran yang kami laksanakan menggunakan metode kooperatif learning. Mahasiswa diminta untuk membentuk kelompok. Awalnya Prof. Marsigit membagi jumlah mahasiswa menjadi dua kelompok besar. Satu kelompok besar, melakukan diskusi bersama Prof Marsigit. Satu kelompok besar yang lain membentuk sub kelompok-kelompok kecil dengan anggota dua sampai empat orang, dengan masing-masing kelompok disampingi oleh satu dari sembilan Bapak atau Ibu S3 tadi.

 

Bahan yang dijadikan topik berdiskusi adalah lima pertanyaan yang sebelumnya sudah dipersiapkan mahasiswa. Saya sendiri termasuk dalam kelompok kecil dengan 4 anggota, dan di dampingi Pak Wawan. Masing-masing dari kami mengajukan pertanyaan, dan kami diskusikan bersama jawaban dari pertanyaan tersebut. Beberapa pertanyaan yang dibahas diantaranya:

 

Jenjang apa yang sesuai untuk diterapkan pembelajaran berbasis etnomatematika?

Hasil diskusi: Jenjang SD paling sesuai diterapkan pembelajaran berbasis etnomatematika karena pembelajaran berbasis etnomatematika menerapkan pembelajaran yang menarik dan banyak aktifitas yang berpusat pada siswa sehingga sangat cocok untuk jenjang SD. Untuk jenjang SMP dan lebih tinggi, tingkat kesesuaian pembelajaran etnomatematika menjadi menurun.

 

Apakah yang menjadikan etnomatematika sebagai suatu pembelajaran yaang sesuai untuk diterapkan di Indonesia sekarang ini?

Etnomatematika adalah pembelajaran yang memanfaatkan budaya-budaya yang ada di lingkungan sekitar untuk digunakan sebagai media pembelajaran. Selain itu, Sehingga pembelajaran etnomatematika sesuai untuk diterapkan di Indonesia. Karena pemebalajaran di Indonesia saat ini menekankan pada penerapan pendeatan kontekstual serta terpusat pada siswa. Penggunaan budaya pada lingkungan sekitar dapat dijadikan media pada pemecahan masalah kontekstual serta dapat menjadi onjek penelitian yang memusatkan pembelajaran pada siswa.

 

bagaimana implementasi pembelajaran etnomatematika di kelas yang baik? Agar pembelajaran etnomatematika tidak hanya sebatas mengamati objek-objek budaya, tetapi juga siswa dapat memahami nilai budaya yang akan disampaikan

ini adalah tantangan bagi seorang guru. Karena tugas guru yang bukan hanya mendidik tapi juga mengajar. Siswa perlu pengarahan agar memahami nilai budaya yang akan disampaikan. Pengarahan dapat secara langsung atau tidak.

 

Mengapa materi yang paling sering diangkat dalam pembelajaran berbasis etnomatematika adalah materi geometri?

Selama ini, budaya yang diangkat dalam etnomatematika yang paling dominan di gunakan adalah objek-objek mati seperti candi, atau keraton. Sehingga memang materi yang sesuai untuk dipadukan dengan budaya tersebut adalah materi geometri, yang mana pada materi geometri dibahas ruang dan sudut dari suatu benda.

 

Setelah selesai, prof memimpin diskusi paralel. Bapak-Ibu yang telah mendampingi jalannya diskusi kami menyampaikan hasil diskusinya di depan kelas. Beberapa hasil diskusi yang dapat saya simpulkan adalah:

  • Pembelajaran berbasis etnomatematika adalah pembelajaran yang sesuai diterpakan di Indonesia, dengan tingkat yang paling tepat untuk ditrapkan pembelajaran berbasis etnomatematika adalah tingkat sekolah dasar.
  • Filsafat adalah ilmu tentang diri Anda sendiri

 

Pembelajaran pada hari itu tidak lain adalah Prof Marsigit ingin memberikan contoh bagaimana pembelajaran etnomatematika dikelas dengan baik, pembelajaran yang terpusat pada siswa, serta bagaimana mengelola kelompok diskusi dengan tepat.

Menuju Mahasiswa UNY

sebelumnya Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh(u) 🙂

Ciee, udah jadi mahasiswa UNY yaa angkatan 2015? Udah bukan calon lagi setelah melewati serangkaian kegiatan yang menguras waktu dan tenaga. Mulai dari seleksi buat masuk UNY, verifikasi data, tes kesehatan, OSPEK, ESQ, sampai yang baru ini ICT. Wahh, banyak yah!!! yang paling aku inget si ya OSPEK sama ESQ.

OSPEK yang bagi kebanyakan orang itu kejam, enindasan dan kekerasan, tapi ternyata di UNY, OSPEKnya keren abis!!! capek si pas kegiatannya dan penugasan yang banyak. Tapi pas udah selesai ospek rasanya kangen suasana riuh di GOR UNY. apalagi pas adu yel-yel dan jargon, sampe serek-serek dah suaranya teriak-teriak hehe 😀

Terus ada juga ESQ. salah satu kegiatan yang bermanfaat banget bagi maba UNY. awalnya bingung ESQ itu apaan? setelah cari tahu sana sini, apalagi setelah ikut kegiatannya seama dua hari, wow banget! jadi ESQ itu semacam cara atau metode untuk membuka tiga macam kecerdasan, IQ, EQ, SQ. tapi semua itu dengan kuasa Tuhan Yang Maha esa. Peserta ESQ diajak merenung dan mengingat siapa sebenarnya dirinya. abis ESQ, pada bilang pusing yaa? hehe 😀 oiya, aku juga tanpa diduga dapet majalah, CD asmaul husna, sama coklat karena jawab pertanyaan dari kak Yasin 😀

terus ada juga ICT, pelatihan TIK buat MABA UNY. Dalam waktu singkat, peserta disosialikan apa itu siakad, lalu wifi UNY, lalu sistem perpustakaan, dll. dilanjutkan dengan praktek dan menjawab 10 soal tes yang materinya dari penjelasan sebelumnya. Peserta juga diajarkan bagaimana membuat blog dan memposting sebuah artikel atau apapun diblognya tersebut. termasuk aku, yang sebenernya postingan ini adalah bagian dari tugas 😀

oke, udah dulu postingan kali ini

see you 🙂

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh 🙂

Selayangpandang

Assalamualaikum readers ^_^

Saya Alvi Khoirunnisak, biasa dipanggil Alvi. Jujur saja, ini pengalaman pertama saya membuat blog, dan itupun berawal dari tugas mata kuliah TIK :D. Tapi untuk kedepannya, saya ingin berbagi beberapa hal kecil yang semoga bermanfaat untuk readers semua ^_^

aamiin ^_^

 

“ikhtiar, do’a, sabar dan tawakal “, biarkan Allah yang bicara ^_^

Profil UNY